15/09/12

Cara Membedakan Batu Mulia/Permata Asli Dengan Yang Palsu

 

Batu permata atau batu mulia memang sangatlah menarik hati. Banyak orang-orang yang rela merogoh kocek dalm-dalam hanya demi sebutir permata yang diidam-idamkannya. Namun hati-hatilah, anda tidak mau kan kalau ternyata permata yang sudah anda bayar berjuta-juta rupiah tersebut ternyata setelah dicek merupakan permata sintetis alias palsu?

Banyak orang yang mengira kalau permata yang harganya mahal itu pastilah asli, belum tentu! Banyak juga permata yang harganya tidak begitu mahal namun keasliannya dijamin batu asli natural bentukan alam. Namun memang, terkadang orang melihat suatu keaslian baraang dari harganya. Nah, supaya anda tidak tertipu dalam membeli permata, ada baiknya anda simak beberapa tips membedakan batu mulia/permata yang asli dengan yang palsu berikut ini.

Alam VS Sintetis
Banyak batu-batu sintetis yang beredar di pasar-pasar batu mulia, walaupun penjualnya bilang itu merupakan batu alami, jangan mudah percaya! anda harus mengeceknya terlebih dahulu. Batu sintetis merupakan batu buatan manusia (laboratorium). Batu alam mempunyai susunan kimia tertentu, contohnya batu zamrud, zamrud merupakan batu dari keluarga Berillium dengan susunan kimia Be3Al2(SiO3)6. Nah, batu sintetis dibuat menggunakan campuran unsur-unsur tersebut yang kemudian dicampurkan dan diberi tekanan serta suhu tinggi, seperti pada proses pembentukan batu alam yang sesungguhnya, maka jadilah batu sintetis yang bentuknya sangat mirip dengan batu yang asli. Namun, setidaknya batu sintetis memiliki kelemahan yang bisa kita lihat menggunakan metode tertentu. 

- Batu sintetis jika dilihat dengan mikroskop dengan pembesaran beberapa puluh kali akan terlihat gelembung-gelembung seperti air, sedangkan batu asli akan terlihat serat-serat halus seperti rambut. 
- Batu sintetis jika dilihat secara langsung tanpa pembesaran akan terlihat sangat cerah dan bersih, pokoknya sempurna. Padahal batu mulia yang sesempurna itu sangatlah langka dan tentunya harganya selangit.
- Batu alam yang asli akan terasa dingin jika ditempelkan kekulit, sebaliknya dengan batu sintetis.
- Jika anda terbiasa dengan batu, maka anda akan dapat membedakan dengan menganalisis beratnya. Batu alami mempunyai berat jenis yang lebih besar dari batu buatan.
- Batu asli mungkin akan terlihat agak kotor dan terdapat serat-serat didalamnya. Banyak orang awam yang mengira batu tersebut pecah, padahal serat tersebut merupakan ciri alami batu alam.

Seperti apa "dalaman" batu alam?
Batuan sintetik biasanya tidak mempunyai inclusion. Inclusion merupakan kesan seakan-akan batu itu retak (crack), atau berbuih (buble) atau terdapat benda asing di dalam batu (seperti tourmalined and rutilated inclusion) atau lamella (kesan seperti cap jari) atau microcrystalline aggreget (seperti rekahan tetapi tidak bisa dirasakan menggunakan jari).

1. Inclusion berbentuk bebenang berwarna putih pada blue-lace agate
n
 









2. "Ferocolumbite inclusion" pada sapphire yang berbentuk seperti bintik
hitam
 










3. "Amethyst inclusion" memberi kesan warna ungu pada quartz yang berwarna putih












4. "Pyro inclusion" pada ruby membentuk kesan kekuningan











5. Salah satu ciri emerald (zamrud) dari Columbia ialah inclusion yang dinamakan jardin. Jardin memberi kesan seperti rekahan, buih dan/atau bintik kehitaman pada emerald





Batu dengan pewarna
Terkadang ada batu berjenis agate atau akik yang warnanya banyak seperti panca warna, batu sulaiman, batu gambar, dll. Banyak kolektor yang gandrung mencari batu-batu jenis ini, karena selain keindahan dan keunikannya juga dipercaya mempunyai "isi" dari alam gaib. Namun hati-hati, biasanya batu-batu tersebut menggunakan zat-zat pewarna khusus untuk mewarnainya. Batu jenis akik yang berwarna putih setelah direndam dalam larutan pewarna khusus, kemudian dijual dengan harga yang sangat tinggi kepada orang awam yang begitu tertarik memiliki batu tersebut. Begitu juga dengan batu pirus, biasanya batu pirus yang warna porselen/turqouise-nya bagus merupakan batu hasil pewarnaan. Untuk mengetes keaslian warnanya, batu dapat disikat menggunakan sabun, jika pewarnanya lemah, maka warnanya akan luntur. Jika zat pewarna yang digunakan kuat, maka anda dapat membeli cairan pelarut warna yang banyak dijual di toko-toko kimia.

Selalu berhati-hati dalam membeli batu mulia akan menghindarkan anda dari kerugian yang besar. Jangan percaya kepada pedagang batu, karena pedagang bukanlah ahli batu, kecuali jika anda sudah mengenal baik pedagang tersebut. Jika permata anda mahal, dan anda mempunyai uang lebih, maka uji saja keaslian batu anda pada ahli gemology terdekat. Harga mengujinya biasanya sekitar Rp. 250.000. 

Selamat berebelanja, dan tetaplah waspada! :-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar